Khutbah Jumat Bulan Dzulqa’dah 1445 H, (Perintah Jujur, Tapi Bukan dalam Kemaksiatan)
![]() |
| Karmuji, M.Sy Penyuluh Agama Islam Kec. Tuban |
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى
اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لآ
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ
الْجِسْمِيِّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ:
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ
الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ، وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ
يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ، وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (النور: 21) إِنَّا نَحْنُ
نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ، وَكُلَّ شَيْءٍ
أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (يس: 12)
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah
Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada jamaah sekalian
pada umumnya, dan kepada diri khatib sendiri khususnya, agar kita senantiasa
meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Implementasinya
dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena, peningkatan iman
dan takwa sejatinya dapat diperoleh dengan dua cara tersebut, yaitu menjalankan
perintah Allah dan menjauhi larangan.
Dalam hal ini Imam Abu Hatim berkata:
أَنَّ الْإِيمَانَ
يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
Artinya: Iman itu sifatnya dinamis, dapat bertambah dan berkurang.
Bertambah karena ketaatan kepada Allah atau menjalankan perintahnya, dan
berkurang karena melakukan kemaksiatan. (Abu Hatim Muhammad bin Hibban,
Shâhîhubnu Hibbân, [Beirut, Muassasatur Risâlah, 1414 H/1993 M], juz XI,
halaman: 196).
Hadirin Rahimakumullâh
Kita semua pasti sepakat bahwa terus terang, berkata benar, dan
jujur merupakan sikap terpuji dan layak diteladani. Namun, adakalanya
sikap-sikap itu justru dilarang karena membawa bahaya. Contohnya, dalam hal
jujur dalam kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي
مُعَافَى إِلاَّ المُجَاهِرِينَ
Artinya: Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujâhirîn
atau orang-orang yang berterus terang dalam berbuat dosa.
وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ
الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ
فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا
Artinya: Sungguh termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah
seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia
menceritakannya padahal Allah telah menutupinya. Lalu ia berkata: Hai Fulan,
tadi malam aku telah berbuat dosa begini dan begitu.
وَقَدْ بَاتَ
يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ. (متفق عليه)
Artinya: Sebenarnya di malam hari Tuhannya telah menutupi perbuatan
dosanya itu, tetapi di pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang
telah ditutupi oleh Allah. (Muttafaqun ‘Alaih).
Hadirin yang Berbahagia
Sekilas hadits di atas terasa aneh. Mengapa ketika berbuat dosa dan
tidak jujur justru diampuni Allah, sedangkan orang yang jujur tidak mendapat
ampunan? Ketidakjujuran dalam
kemaksiatan bukan berarti berbohong. Karena ketidakjujuran dalam hadits di atas
adalah ketidakjujuran dalam arti tidak menceritakan kesalahan dan dosa.
Setidaknya ada satu alasan penting tentang hal itu. Orang yang
berbuat dosa, kemudian jujur dan menceritakan kepada orang lain akan membuka
kemungkinan dilakukannya dosa serupa dalam lingkup yang lebih luas. Ketika
suatu kemungkaran diumbar begitu saja dan dianggap biasa, maka akan melahirkan
gerakan masif untuk melakukan kemungkaran itu. Seperti korupsi, riba,
menggunjing, dan kemaksiatan lainnya yang mungkin terasa biasa di sekitar kita.
Misalnya, seorang guru yang jujur berkata: Saya dulu pernah melakukan berbagai
maksiat, mabuk-mabukan, mencuri, dan berzina, kemudian saya bertobat dan
memperbaiki diri hingga akhirnya menjadi guru seperti sekarang.
Bayangkan jika perkataannya didengar oleh murid, tentu bisa
menimbulkan kemungkinan munculnya pemikiran bahwa mabuk-mabukan dan kemaksiatan
lainnya adalah hal biasa di benak muridnya. Karena gurunya pernah melakukan.
Pun ketika anaknya jatuh melalukan dosa, mereka memiliki alasan tidak apa-apa berbuat dosa seperti itu, dulu
guruku juga melakukannya. Dia sendiri pernah bilang begitu. Padahal, mungkin tindakan guru menceritakan
dosanya karena landasan kejujuran. Tetapi, apa artinya kejujuran jika pada akhirnya
justru mencetak pelaku-pelaku baru dalam kemaksiatan?
Sementara dalam hadits lain ditegaskan, ketika seorang berbuat dosa
kemudian orang lain mengikutinya karena terinspirasi oleh pelaku pertama, maka
pahala dosa orang yang mengikuti mengalir juga kepada pelaku pertama, atau bisa
disebut juga dosa jariyah. Rasulullah saw bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً،
فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ
مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ
Artinya: Orang yang melakukan perbuatan baik dalam Islam maka baginya
pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya
tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
وَمَنْ سَنَّ فِي
الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ
بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهمْ شَيءٌ. (رواه
مسلم)
Artinya: Orang yang melakukan suatu perbuatan buruk, maka baginya
dosanya dan dosa orang yang melakukan sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka
sedikitpun. (HR Muslim).
Artinya, ketika seseorang melakukan kemungkaran dan memutuskan
bertobat, lalu tidak menceritakan perbuatan dosanya, maka secara tidak langsung
dia telah membuka sunnatan hasanatan dan menutup kemungkinan terbukanya
sunnatan sayyiatan. Karenanya, jika di
antara kita sudah terlanjur melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, lebih baik
segera menyesali diri, memohon ampunan dan bertobat, daripada menceritakan
kepada orang lain yang tidak ada kaitannya dengan perilaku kita.
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا
رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ
مُسَمًّى، وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ، وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي
أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (هود: 3)
Artinya: Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Tuhan kalian lalu
bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu
sampai waktu yang telah ditentukan; Dia akan memberikan karunia-Nya kepada
setiap orang yang berbuat baik; dan jika kalian berpaling maka sungguh Aku
khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat). (Surat Hud
ayat 3).
Demikian pesan singkat yang bisa diberikan pada kesempatan Jumat
ini. Besar harapan, apa yang ada menjadi pegangan pada diri dan jamaah untuk
mengisi sisa usia dengan sifat dan perangai terbaik.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرُّحِيْمُ *
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلهِ
وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى،
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ.
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبّنَا وَلَا
تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا،
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا
وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عباد الله، ان
الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذي القربي وينهي عن الفحشاء والمنكر والبغي
لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم واسألوه من فضله يعطكم ولذكر الله اكبر


Komentar
Posting Komentar